No Hp membawa nikmat


Gue anak pertama dari tiga bersaudara. Menurut gue, jadi anak pertama tuh gak terlalu enak. Kadang-kadang Orang Tua gue lebih terfokus sama adik-adik gue. Kata Orang Tua gue, gue ini udah besar, jadi gak perlu terlalu dijaga lagi kaya adik-adik gue. Nama gue Nessa.

Tapi kalau gue sih maunya dimanja sama Orang Tua gue. Ya... apa boleh dikata, mungkin nasib anak pertama kaya gini kali ya. Tapi dulu, sebelum ada adik-adik gue. Gue sangat disayang Orang Tua gue. Mungkin karena anak pertama.

Sekarang gue duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sehari-harinya gue hanya terfokus pada Sekolah gue aja. Gak ada yang lain, apalagi cowok. Makannya, temen-temen gue selalu bilang, “Kapan loe punya cowo?”
Tanggapan gue sih biasa aja. Gue gak ngiri sama temen-temen gue. Apalagi si Lauren. Temen gue yang satu ini paling ngebet banget gue punya cowok
Alasannya dia sih, biar gue gak sendiri lagi kalau jalan sama mereka. Soalnya, temen-temen gue kalau pergi jalan-jalan pasti selalu membawa pasangannya masing-masing.
Kata temen-temen gue, bukannya gue sombong ya... Hehehe... Gue itu cantik, putih, mulus, sexy dan pinter, tapi kenapa belum punya cowok?

Akhhh... masa bodoh sama omongan temen-temen gue. Yang penting gue happy.
“Nessa!” Panggil Olif. Olif ini temen gue dari kecil, dia juga satu sekolah sama gue.
“Apa'an sih loe? Pagi-pagi udah bikin telinga gue budek, gara-gara suara loe yang cempreng itu.”
“Gue pinjem buku IPA loe dong.”
“Buku IPA gue di pinjem si Putra.”

“Putra yang mana ya?”
“Itu loh, anak baru di kelas Akuntansi. Loe ambil aja sama dia.”
“Ok deh.” Olif pergi menuju Putra.

Biasanya temen-temen gue kalau mau meminjam buku, pasti sama gue. Karena menurut mereka, buku gue itu rapih, dan tulisannya mudah dibaca. Bukannya gue sombong, tapi memang itu menurut mereka.

Bukan cuma Olif yang jadi temen setia gue. Roro, dan Agni.
Temen gue yang namanya Roro itu adalah anak keturunan keraton Solo. Namanya aja, Raden Roro Pangestika. Ahahaha.... Namanya panjang sekali.  Roro itu anak yang asyik untuk diajak berdebat. Maklumlah si Roro ini juara debat tingkat SMK Nasional. Walaupun nada bicaranya agak berlogat Jawa.

Nah, kalau Agni ini temen gue yang paling modis. Gaya pakaiannya aja selalu mengikuti tren sekarang. Dia juga seorang model disalah satu majalah remaja. Postur tubuhnya memenuhi persyaratan buat jadi model, bukannya hanya postur tubuhnya saja yang memenuhi persyaratan, tapi wajahnya juga blasteran Indonesia Belanda.
Wih! Pokoknya gue beruntung banget deh punya temen kaya mereka. Selain itu juga mereka asyik untuk diajak bercanda.

Yang paling gokil diantara gue, Roro, dan Agni adalah Olif.
Olif sering ngebanyol apa aja yang ada di pikirannya pasti ia keluarkan. Memang agak ceplas-ceplos. Asyik juga sih...

Mereka ini yang jadi temen pelepas bosan gue kalau lagi gak ada kerjaan. Mereka terus mendesak gue buat punya cowok. Biarin ajalah, berarti mereka peduli sama gue.

Hari ini rencananya gue mau ke Bintaro, untuk silahturahmi sama sanak saudara disana. Mumpung hari minggu. Jadi, gue libur sekolah. Kapan lagi gue bisa pergi ke rumah saudara gue. Hehee...
Kerjaan gue kalau sudah sampai di rumah saudara, biasanya ngabisin makanan yang ada disana. Padahal, body gue ini kecil. Mau gue makan sebanyak apapun, body gue gak akan melar kaya karet.

Berbeda banget sama agni. Agni selalu diet untuk menjaga bodynya supaya gak melar. Setiap harinya jika sekolah, ia harus membawa Apel merah untuk cemilan. Dari pada nyemil yang sembarangan mendingan nyemil apel yang sehat. Begitu katanya Agni.

Apa kenyang ya, hanya makan Apel saja? Pikir gue sih gak akan kenyang. Apalagi kalau yang punya perut kaya gue. Wah, gak akan mungkin kenyang kalau hanya dengan satu Apel aja buat ngemil. Cemilan gue sehari-hari itu biasanya makanan-makanan yang ngenyangin perut gue, contohnya kaya roti.

Macet sekali Ibu Kota hari ini. Gak kaya hari biasanya. Gue sih sudah terbiasa dengan yang namanya macet. Silahturahmi berjalan lancar banget nie.
Sekali mendayung  dua tiga pulau terlampaui. Itu peribahasa yang cocok buat gue.

Pasalnya, selain gue silahturahmi sama saudara gue, gue juga kenalan sama cowok yang rumahnya tepat disamping rumah saudara gue. Lumayan sih orangnya. Hitam manis gitu deh. Tapi kalau seandainya gue jadi ceweknya, pasti hasilnya kaya kopi susu, dia kopinya yang berwarna hitam, gue susunya yang berwarna putih.
Akhh masa bodoh deh, toh juga dia hanya temen gue dan gak lebih dari itu.

Dari situ gue sama dia bertukar nomor handphone. Sampai sekarang gue masih berkirim Message sama dia. Dia itu Rangga. Kalau dilihat dari rumahnya dan gaya dia berpakaian, seperti orang berduit.
Siapa tahu aja gue salah penglihatan. Dia baik sama gue, sering juga gue jalan bareng sama dia, juga teman-temannya.

Rangga itu cowok terlucu yang bisa bikin gue selalu tersenyum kalau disamping dia. Bukan karena dia badut yang lucu. Tapi karena tutur katanya yang selalu ngebanyol.

Sekolah gue pagi ini mengadakan acara Pensi (Pentas Seni). Wih acaranya rame banget. Sampai telinga gue agak pengang dengan suara musik anak-anak Band.
“Nessa, dari mana aja loe?” Tanya Agni yang waktu berpakaian sangat modis.

Karena hari ini ada acara Pensi, jadi seluruh siswa-siswi boleh memakai pakaian bebas.
“Gue baru sampai nie.” Ujar gue yang kala itu lagi ngosngosan.
“Kok, loe baru sampai sih?” Tambah si putri keraton Solo, Roro.
“Akhhhh... ceritanya panjang kaya kereta, lagian juga gue males ceritanya. Gak penting!”

Ditengah suara bising musik anak Band, mereka pergi menuju toilet, untuk sekedar berhias diri merapihkan rambut.
“Oh iya, Nes. Hari minggu kemarin loe kemana? Gue telepon ke handphone loe gak diangkat-angkat.” Celetuk Olif.

Nessa menyisir rambutnya, “Gue ke Bintaro.”
“Hah! Ke Bintaro? Ngapain loe kesana?” Tanya Roro, Agni, dan Olif.
“Biasa aja dong, gak usah sampai keget kaya begitu.”
“Ini moment terlangka yang pernah gue denger. Secara loe itukan paling males keluar rumah, apalagi sampai ke Bintaro.” Agni mengoceh.
“Biarin dong, sekali-kali gue main ke tempat saudara gue.”
“Oh loe ketempat saudara loe.”
“Iya, lumayan juga gue disana dapet kenalan.”

Mata Roro, Agni, dan Olif lagsung melotot, “Hah! Kenalan? Cowok ya.”
“Yaiyalah cowok. Masa gue kenalan sama banci.”
“Ganteng gak nie?” Timbal Roro.
“Lumayan sih, dia berkulit hitam Tapi manis kok.”
“ Bagus deh! Berarti temen gue ini ada kemajuan memikat hati cowok. Ahahaha....” Ledek Olif.
“Apaan sih loe, gue sama dia juga hanya berteman dan gak lebih.”
“Siapa tahu aja, dari berteman jadi berpacaran.” Agni menambahkan.

“Udah de, jangan selalu ngeledek gue.” Nessa agak sedikit jengkel.
“Nessa, Nessa... Kapan sih loe punya cowok. Gak bosen apa loe ngejomblo terus?” Tanya Roro.
“Gak ahh.. Gue sih biasa aja. Mau gue jomblo atau enggak. Yang penting gue happy dengan kesendirian gue.”
“Tapi sampai kapan loe mau jomblo terus kaya gini?” Sahut Agni.
“Sampai gue nemuin cowok yang pas dihati gue. Hehe...”
“Sok puitis loe. Udah ah... ayo kita nonton pensi lagi.” Ajak Olif sambil keluar dari toilet.

Kalau udah ngomongin masalah cowok, temen-temen gue pasti langsung nyerocos kaya kereta. Gak ada berhentinya.
Bagi temen-temen gue, obrolan tentang cowok itu adalah obrolan yang menarik buat mereka. Gue juga gak tahu apa yang menarik dari obrolan itu.

Sepulang dari acara Pensi, temen-temen gue mengajak pergi ke Mall. Biasa, naluri cewek. Bawaannya pengen shoopping mulu. Karena perut sudah keroncongan, jadi gue dan yang lainnya memutuskan untuk makan di restoran Jepang.

Setelah perut kenyang, kita melanjutkan perjalanan mencari barang yang ingin dibeli. Sampai di sebuah butik baju, Roro dengan logat Jawanya mencetuskan kata-kata yang tidak enak didengar oleh sang pemilik butik.
“Widiiihh! Mahal amat... Kaos kaya gini aja harganya sampai Rp.200.000. Kalau gue beli di pasar pasti harganya cuman Rp.50.000.
Agni mendekap mulut Roro. Lalu dilepaskan, “Roro! Kalau ngomong jangan kenceng-kenceng! Nanti yang punya butik denger, kan gak enak.”
“Biarin aja sih, memang kenyataannya begitukan.” Roro mengelak.
“Tapikan kita gak boleh menyinggung perasaan yang punya butik.”
“Iya deh, gue kalah.” Roro mengalah.

Nessa melihat sebuah gaun yang sangat indah. Warnanya putih bersih, dihiasi dengan payet yang berwarna. Begitu dilihat harganya, Rp.1.500.000. Nessa tlangsung tidak jadi membelinya.
“Nessa, Kenapa loe balikin lagi tuh baju?” Tanya Olif.
“Gak deh, Makasih. Kalau gue beli tuh gaun, bisa-bisa uang saku gue dipotong sama nyokap gue selama satu bulan.” Ujar Nessa.

Mendegar ucapan Nessa, Teman-temannya yang lain langsung terdiam. Mereka melanjutkan menyusuri butik yang lainnya.
Di sebuah butik yang tidak jauh dari butik yang sebelumnya, Nessa menemukan pakaian yang ia inginkan. Begitu Nessa mengambil Pakaian tersebut, tangannya berbarengan dengan tangan seorang cowok yang juga akan mengambil pakaian tersebut.
“Eh, Gue duluan yang ngambil nih!” Bentak Nessa.
“Tapi, gue duluan yang ngeliat nie pakaian.” Elak si cowok.

Akhirnya, pakaian tersebut diberikan kepada Nessa, Cowok yang tadi mengalah.
“Kalau gue gak liat loe cewek, udah gue...”
“Udah gue apa?” Nessa menantang.
Cowok tadi kesal, lalu pergi meninggakan Nessa.

Di belinya oleh Nessa baju tadi. Nessa pun agak kesal dengan kelakuan cowok tadi.
“Ih, ngeselin banget sih tuh cowok, bikin gue gak emut blanja ajah!”
Nessa segera mengajak temannya yang lain untuk pulang, karena ia sudah tidak emut untuk belanja lagi.
Apa boleh buat, teman-teman Nessa hanya bisa menuruti keinginan Nessa. Karena mereka tahu, Nessa sedang  bermuka jutek. Kalau tidak dituruti, marahnya Nessa akan semakin parah.

Gue sih gak mempermasalahkan apa yang terjadi tadi di Mall. Tapi yang bikin gue kesel itu, ya... cowok tadi. Gayanya aja selangit, tampang boleh permak kayanya, terus gak sopan lagi sama cewek. Amit-amit deh gue punya cowok kaya dia. Jangan sampai.

Kisah cinta gadis bisu




Di sebuah yayasan yatim piatu, ada seorang anak laki-laki dan perempuan bernama Roni dan Lina, mereka selalu bersama. Roni adalah anak laki-laki yang sangat gemar bernyanyi, ia bercita-cita untuk menjadi seorang bintang kelak. Sedangkan Lina adalah seorang anak perempuan yang bisu, sebelum kedatangan Roni, Lina selalu murung dan tak ada yang mau bermain dengannya.

Suatu hari, Roni berniat untuk meninggalkan yayasan dan pergi ke kota untuk mengejar impiannya menjadi seorang penyanyi. Namun ia berjanji pada Lina, bahwa ia akan kembali setelah ia sukses nanti untuk menjemput Lina dan membawanya keluar dari yayasan itu.

Setelah lima tahun berlalu, tidak ada kabar dari Roni. Lina yang menunggu tanpa kepastian akhirnya memutuskan untuk menyusul Roni ke kota. Walau tanpa berbekal uang dan informasi cukup untuk mencari Roni, Lina tetap nekat untuk menemukan Roni seorang diri, dengan bermodalkan buku tulis dan alat tulis sebagai alat berkounikasi dengan orang lain.

Pergi ke kota adalah pengalaman pertama kali bagi Lina, bahkan ia tidak pernah menginjakkan kaki ke luar, sejak ia masuk ke yayasan tersebut. Meski ia merasa takut dan asing dengan dunia luar, Lina memiliki keyakinan bahwa ia pasti dapat menemukan Roni, karena kini Roni sudah begitu terkenal.

Begitu banyak orang yang menyelanya karena mengaku kenal seorang superstar seperti Roni. Alhasil setiap ia bertanya tentang keberadaan Roni, Lina tidak mendapatkan hasil apapun. Beruntung ia bertemu dengan seorang pemuda yang baik hati bernama Handy yang akhirnya menampung dan mau membantu Lina menemukan Roni.

Handy adalah pemilik sebuah kedai kecil di dekat stasiun kereta api, ia jatuh hati pada Lina semenjak pertama kali bertemu. Ia membantu Lina mencari tahu keberadaan Roni. Sampai-sampai akhirnya Handy mempelajari bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan Lina. Suatu hari mereka akhirnya mendapat kabar bahwa Roni akan pulang dari Amerika, sehingga Lina dan Handy berencana untuk menemuinya di bandara.

Bandara sangat ramai hari itu, suasana penuh sesak dengan para fans yang juga menanti kepulangan Roni dari luar negeri. Keadaan menjadi semakin ricuh dan tak terkendali ketika Roni menampakkan diri keluar dari pesawat, para fans berdesak-desakan. Sehingga sangat sulit bagi Lina untuk bertemu dengan Roni dalam keadaan yang seperti itu. Meskipun begitu Lina tidak menyerah, ia tetap berusaha agar dapat bertemu dengan Roni.

Setelah berminggu-minggu berusaha tanpa hasil, Lina mulai putus asa, entah kapan ia dapat bertemu dengan Roni. Ditambah lagi, Lina juga merasa tidak enak hati dengan Handy karena sudah menumpang dan banyak menyusahkannya. Lina mulai mencari kerja agar tidak terus bergantung dan menyusahkan Handy, ia pasrah tapi tetap berharap suatu hari nanti dapat bertemu dengan Roni.

Kini Lina bekerja sebagai perangkai bunga, di tengah keputusasaannya, suatu hari Lina mendapat tugas untuk mengantarkan bunga ke suatu apartment. siapa sangka bahwa pemilik apartment yang dimaksud adalah apartment milik Roni. Lina begitu senang karena akhirnya ia dapat bertemu dengan Roni. Roni tidak pernah menyangka bahwa Lina akan menyusulnya ke kota, dan Roni berpikir untuk meminta Lina untuk tinggal bersamanya.

Namun sebagai seorang superstar membuat keadaan menjadi tidak mudah, Selain mempertaruhkan reputasi Roni sebagai bintang, posisi Lina juga akan menjadi sulit, karena media pasti akan terus mencari berita tentang dirinya. Roni tetap bersi keras ingin menjaga Lina dan sangat berhati-hati agar media tidak mengetahui hubungan mereka.

Tak lama mereka bersama, sebuah media mendapati foto Roni dan Lina sedang bersama, beritanya pun cepat menyebar luas. Saat media mempertanyakan status mereka, Roni terpaksa menutupi status mereka dengan mengatakan bahwa Lina adalah adik kandungnya yang sudah lama terpisah. Tapi ternyata pengakuan Roni tidak menghentikan media untuk terus mencari tahu tentang Lina.

Semenjak itu, banyak hal-hal sulit yang harus Lina dan Roni lalui. Lina hampir menyerah dan berpikir untuk melepas Roni demi kebaikanya. Tapi  Roni tidak ingin berpisah, dan malah melamar Lina. Roni tahu dampak perbuatannya itu terhadap kariernya, tapi ia bertekad untuk menerima apapun resiko yang akan ia terima atas tindakannya tersebut. .

Roni mempertaruhkan kariernya dan tetap melamar Lina, ia juga mengakui kepada media bahwa Lina adalah tunangannya. Berita tersebut membuat publik menjadi gempar, karier Roni semenjak itu juga tidak secerah dulu lagi.

Meskipun begitu, ia tetap dapat menjalankan profesinya sebagai penyanyi, Roni tidak merasa sedih, karena ia bisa tetap bernyanyi, dengan Lina yang sekarang selalu berada di sisinya.

Gara-gara putus cinta keperawananku hilang diambil teman dekatku








 Menyedihkan memang melihat seseorang yang putus cinta. Baginya seakan segalanya sudah tak berarti ,gak kebanyakan orang seperti itu. Tidak juga bagi IMEL.
         Gadis penyendiri dan pendiam ini menganggap putus cinta adalah hal yang konyol. Pertama senang, cemburu, ada perasaan gelisah jauh dari pasangan, lalu terakhir putus.
         Wajar menurutnya, putus cinta hal yang dialamisemua manusia. Semua manusia pasti pernah merasakannya. Pantaslah hingga kini Imel memang belum pernah mersakan namanya menjalin kasih, bahasa kerennya sih pacaran! Hanya first love saja.
         “Imel !!!” panggilan itu terasa jauh didengar. Tak berapa lama seorang gadis berambut panjang terurai menghampiri Imel.
         “Imel !!gw nyari loe 3 bulan ini. Kemaja aja loe??”tanya si gadis 
         Imel memandang lalu menjawab, “Urel ??ko loe bisa disini??gw sekarang tinggal di deket sini.”
         “Iya gw “Urel. Loe gak lupakan sama gw Mel??gw gak sengaja liat loe. Loh !! ko loe bisa tinggal disini.”
         Kedua gadis itu berjalan menyusuri lampu kota disamping jalan, sambil melepas keingintahuan mereka masing-masing.
         Imel melanjutkan perkataannya, “ya enggak lah, masa gw lupa sama loe. 3 bulan yang lalu, gw pindah kesini.”
         “Owh !!! pantas saja gw cari loe dirumah loe yang dulu gak ada.”
         “By the way... ada apa loe nyari gw??”
         “Loe ternyata masih sama ya kaya dulu gak ada yang berubah. Gw nyari loe karna sebentar lagi ada REUNI AKBAR SMA kita, dan undangan punya loe ada di gw. Kebetulan “Urel mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah undangan, Urel menyodorkan undangan tersebut ke Imel.
         Diambil oleh Imel undangan itu. Undangan berwarna biru langit itu sangt menarik. Dibaca oleh Imel undangan yang telah lama itu.
         “Acaranya satu minggu lagi ??” tanya Imel.
Urel mengangguk tersenyum.
         “Masih ingat gak loe sama temen SMA dulu ....??” tanya Urel.
         “Ya iyalah masih inget !!”
         “gw kirain loe dah lupa!! Hehe ... “ Urel berucap sambil tertawa.
         Pembicaraan mereka berakhir ketika sebuah mobil berhenti tepat didepan mereka. Urel mendekati mobil itu, seorang supir membukakan pintu untuk Aurel (Urel).
         “Imel gw ,duluan ya... atau loe mau bareng gw anterin??” tanya Urel menawarkan.
         “owh !! gak usah Rel, terimakasih... rumah gw juga udah deket ko !!” penolakan yang ramah.
         Urel pergi meninggalkan Imel sambil melambaikan tangan dari dalam mobil.
         Kini di pinggir jalan itu tinggallah Imel sendiri yang berjalan menyusuri lampu kota menuju rumahnya.
         Yang ada dipikiran Imel sekarang adalah menamatkan kuliahnya, tidak peduli orang lain berkata apa tentang Imel yang tidak memiliki pasangan. Baginya kalau jodoh tidak kemana. Itulah pepatah lama yang cocok.
         Bukan berarti Imel tidak menyukai lawan jenis, dalam hatinya ada perasaan sayang dan suka terhadap lawan jenis.
         Imel mengingat kembali masa SMA nya. Pertama kali Imel MOS (Masa Orientasi Siswa) disitulah ia bertemu dengan Urel yang sampai sekarang menjadi teman dekatnya. Di SMA juga Imel merasakan yang namanya first love atau cinta pertama.
         Kalau kata orang tua, cintanya anak SMA tuh masih “cimon” alias Cinta Monyet. Hehe...
         Ternyata, cintanya Imel nggak bertepuk sebelah tangan, soalnya si pujaan hati juga punya perasaan yang sama kaya Imel.
         “Adam.” Itu nama first love Imel. Sayangnya semua berakhir dengan perpisahan.
        Adam melanjutkan kuliah ke STPDN. Adam dan Imel sama-sama tidak ada yang mengucapkan kata putus. Hanya saja, Adam berucap agar Imel menjaga dirinya baik-baik. Imel juga berjanji kepada Adam bahwa ia akan menunggu Adam sampai tamat kuliah. Semoga saja penantian tidak sia-sia.
        Semenjak itu, Imel tidak pernah lagi berhubungan dengan cowok manapun. Karna ia ingat akan janjinya kepada Adam. Janji yang menurutnya adalah sesuatu yang seharusnya ditepati.
        Urel pernah berkata pada Imel. Agar Imel melupakan Adam yang belum jelas nantinya. Siapa tahu Adam lupa dengan Imel saat ia kuliah. Mungkin aja Adam mencari cewek lain.
        Tetap saja Imel tidak menggubris ocehan Aurel. Menurutnya, apa yang diucapkan Urel tidak benar. Itu semua hanya omong kosong. Cuma takdir yng bisa menjawabnya. Apapun bisa terjadi dalam jangka waktu 4 tahun.
        Hingga kini, 4 tahun sudah Imel melupakan semuanya. Masa lalu yang menurutnya hanya bualan belaka. Entah dimana Adam sekarang. Mungkinkah Adam masih mengingatnya. Masih setiakah ia dengan janji yang dulu.
        Janji yang hingga kini masih terngiang di telinga Imel. Entah, janji itu di tepati atau diingkari.
***
        Reuni Akbar SMA Imel pun diadakan hari ini, pukul 13.00. Imel sudah berpakaian rapi hendak menghadiri acara tersebut dalam hatinya, “siapa tahu Adam datang ke reuni itu, diakan satu SMA dengan Imel.
        Dengan wajah yang cerah, Imel berangkay bersama Urel. Sampai disana pukul 13.00. Acara sudah dimulai setengah jam yang lalu.
        Imel dan Urel duduk dikursi paling belakang. Terlihat samar-samar didepan orang yang berpidato. Tidak begitu jelas karena jarak antara orang yang berpidato dan tempat duduk Imel sangat jauh.
        Imel menengok kekanan dan kekiri seolah-olah mencari seseorang bisa ditebak, Imel sedang mencari Adam.
        “kenapa sih loe Mel?? Lama-lama leher loe patah deh nengok-nengok mulu!!” tanya Urel.
        Imel tidak menghiraukan ucapan Urel. Ia hanya mencari seseorang. “kok gak ada??”
        “Imel loe nyari siapa??” Urel melihat wajah cemas Imel.
        “Adam!!” nama itu keluar begitu saja dari bibir mungilnya.
Mendengar hal itu, Urel langsung berdiri menengokkan kepalanya ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang sambil mencari.
        “kayanya dia gak dateng deh !!” ujar Urel.
        Wajah Imel semakin memucat mendengar perkataan Urel.
        “tenang, Mel... coba kita lihat di daftar hadir tamu undangan reuni.” Urel menarik tangan Imel menuju tempat para tamu mengisi daftar hadir.
        Urel bertanya pada seorang gadis yang menjaga tempat daftar hadir tamu undangan, “permisi....”
        “iya, ada yang bisa saya bantu kak??” si gadis menjawab ramah.
        “saya mau cari tamu yang bernama Adam Syahputra. Apa dia sudah datang??” tanya Urel.
        Gadis itu membuka catatan daftar hadir tamu. Dilihatnya satu persatu nama yang ada dibuku daftar hadir tamu.
        “maaf kak ... tidak ada yang bernama Adam Syahputra.” Urel mengecek kembali.
        Tidak didapati nama Adam dibuku itu. Dengan perasaan kecewa Imel mengucapkan terimakasih kepada gadis tadi. Urel dan Imel meninggalkan tempat acara reuni tersebut.
        “dia gak dateng !!” ucapan Imel melemah.
        “udah donk Imel, sampai kapan loe mau nunggu dia??”
        “sampai gw ketemu dia.”
        “loe gila !! kalau loe gak ketemu lagi sama dia gimana??”
        “Cuma Tuhan yang tau semuanya.”
***
        Sore ini di Taman Kota. Dari jauh terlihat saat gadis cantik duduk dibangku Taman. Sendiri hanya di temani dedaunan yang jatuh.
        Imel..!! seperti menunggu seseorang, benar saja, Imel menunggu Adam di Taman itu.
        Sewaktu Adam akan kuliah, mereka berdua berjanji akan bertemu di Taman itu. Imel menunggu termenung sendiri sambil melempar batu kedalam kolam.
       Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Dari sore sampai hampir larut malam Imel masih menunggu kedatangan Adam. Malam ini yang didapat hanya kekecewaan saja. Tak nampak Adam datang.
        Imel pulang membawa senyum kecewa. Imel berjalan sendiri di temani lampu kota dan bintang malam yang bertaburan. Dia menengadah ke langit berhenti sejenak.
        “Tuhan... kenapa dia tidak datang. Apa aku bersalah padanya?? Kalau memang kau ijinkan aku bertemu dengannya, pertemukan aku dengannya untuk yang terakhir kali.” Ucapan Imel melemah lemas, wajahnya kusut, langkah kakinya gontai menuju rumah.
***
        Terdengar ketukan pintu, “tok...tok..tok..”
         Imel berlari menuju pintu membukakan pintu untuk orangyang datang.
         “Urel !! ada apa loe datang pagi-pagi?? Ayo masuk !!” Imel mempersilahkan masuk.
         Urel masuk dengan wajah yang muram.
          “Mau minum apa Rel??”
          “gak usah Mel, gw Cuma mau nganterin ini.”
          Sebuah undangan berwarna gold, begitu indah dan rapih dilihat. Imel tercengang melihat nama dalam undangan itu.
          “Adam dan Naura??” tanya Imel.
          “iya Mel !! loe harus terima kenyataan. Dia gak inget sama loe. Gw udah bilang supaya loe lupain dia. Sia-sia pengorbanan loe selama ini. Sampai sekarang loe gak pernah buka hati loe buat cowok lain cuma demi dia.” Urel kesal.
          Imel hanya terdiam membisu. Tak sepatah katapun terucap darinya.
          “gw pasti datang ke pernikahannya!!” ucap Imel sambil berlari menuju kamar.
          Urel melangkah pelan masuk ke kamar Imel. Di depan jendela Imel melihat hujan yang turun pagi ini. Air matanya menetes tak terbendung lagi. Hujan pagi ini mengiringi kenyataan yang dibawa oleh Urel.
          Kenyataan bahwa penantian yang selama ini ia tanamkan, hanya angin belaka. Orang yang ia cintai dan tunggu akan menjadi milik orang lain.
          “Mel, loe gak boleh kaya gini. Loe harus buktiin sama Adam, kalau loe bisa tanpa dia. Cowok di dunia ini gak Cuma 1, masih banyak yang suka sama loe.”
          “ok !! gw harus ikhlassin dia. Bener kata loe Urel, gw gak boleh kaya gini terus.” Hanya di ucapan saja, tetapi didalam hati Imel berbeda.
          “loe yakin mau dateng ke pernikahannya??”
          Imel mengangguk kepala menandakan “iya” .
***
           Hari ini detik ini, Imel menghadiri pesta pernikahan Adam. Ia pergi bersama Aurel. Tema pesta pernikahan ini seperti pesta kebun.
             Terlihat kedua insan yang berwajah bahgia sedang bersanding di pelaminan. Tidak ada yang berubah dari wajah Adam, yang berubah hanya Adam melupakan segalanya tentang masa lalunya.
             Adam melihat kedatangan  Imel dan Urel. Adam hanya terdiam terpaku, menatap wajah Imel dari kejauhan. Mungkin penyesalan adalah kata-kata yang pantas untuk Adam.
            Dua hari sebelum hari pernikahan Adam. Urel menemui Adam dirumahnya. Urel menceritakan semuanya kepada Adam. Tetapi, sudah terlambat. Hari pernikahan Adam sudah dekat Adam dijodohkan dengan Naura.
           Naura adalah anak dari pengusaha properti teman  bisnis orang tua Adam. Adam tidak mau membantah orang tuanya. Imel melihat Adam yang menatapnya dari kejauhan.
          Dalam hati Imel berkata, “Adam.. gw udah ikhlasin loe buat yang lain. Mungkin loe bikan jodoh gw. Selama apapun gw nunggu loe, gak akan bisa bersatu. Karna takdir kita berbeda”.
         Air matanya jatuh tak terbendung lagi. Mencintai seseorang yang tak mungkin dimiliki. Bagaikan Punduk Merindukan Bulan. Mencintai manusia berlebihan akan menimbulkan atau bahkan sebaliknya menyedihkan.
         Kesenagan duniawi hanya sementara, kesenangan diakhir nantilah yang kekal abadi.

Enaknya perawan desa bisa jadi obat awet muda


Kring.. HP-ku berbunyi. Saat itu aku berada di kantorku sedang membaca surat-surat dan dokumen yang barusan dibawa Lia, sekretarisku, untuk aku setujui. Kulihat di layar tampak sebuah nomor telepon yang sudah kukenal.
“Hello.. Dita.. Apa kabar” sapaku.
“Hi.. Pak Robert.. Kok udah lama nih nggak kontak Dita”
“Iya habis sibuk sih” jawabku sambil terus menandatangani surat-surat di mejaku.
“Ini Pak Robert.. Ada barang bagus nih..” terdengar suara Dita di seberang sana.
Dita ini memang kadang-kadang aku hubungi untuk menyediakan wanita untuk aku suguhkan pada tamu atau klienku. Memang terkadang untuk menggolkan proposal, perlu adanya servis semacam itu. Terkadang lebih ampuh daripada memberikan uang di bawah meja.
“Bagusnya gimana Dit?” tanyaku penasaran.
“Masih anak-anak Pak.. Baru 15 tahun. Kelas 3 SMP. Masih perawan”
Mendengar hal itu langsung senjataku berontak di sarangnya. Memang sering aku kencan dengan wanita cantik, ABG atupun istri orang. Tetapi jarang-jarang aku mendapatkan yang masih perawan seperti ini.
“Cantik nggak?” tanyaku
“Cantik dong Pak.. Tampangnya innocent banget. Bapak pasti suka deh..” rayu Mami Dita ini.
Setelah itu aku tanya lebih lanjut latar belakang gadis itu. Namanya Tari, anak keluarga ekonomi lemah yang perlu biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya lagi sehabis SMP nanti, sehingga setelah dibujuk Dita, dia mau melakukan hal ini.
“Minta berapa Dit? ” tanyaku
“Murah kok Pak.. cuma lima juta”
Wah.. Pikirku. Murah sekali.. Aku pernah dengar ada orang yang beli keperawanan sampai puluhan juta. Singkat kata, akupun setuju dengan tawaran Dita. Aku berjanji untuk menelponnya lagi setelah aku sampai di lokasi nanti.
“Lia.. Ke sini sebentar” kutelpon sekretarisku yang sexy itu. Tak lama Lia pun masuk ke ruanganku. Sambil tersenyum manis dia pun duduk di kursi di hadapanku.
“Ada apa Pak Robert?” tanyanya sambil menyilangkan kakinya memamerkan pahanya yang putih.
Belahan buah dadanya tampak ranum terlihat dari balik blousenya yang agak tipis. Ingin rasanya aku nikmati dia saat itu juga, tetapi aku lebih ingin menikmati perawan yang ditawarkan Dita. Toh masih ada hari esok untuk Lia, pikirku.
“Saya perlu uang lima juta untuk entertain klien. Tolong minta ke bagian keuangan ya” kataku.
“Baik Pak” jawabnya.
“Ada lagi yang bisa saya bantu Pak Robert..?” Lia berkata genit sambil menatapku menggoda.
“Nggak.. Mungkin lain kali Lia.. Saya sibuk banget nih” kataku pura-pura.
Aku tak ingin staminaku habis sebelum bertempur dengan Tari, anak SMP itu. Liapun beranjak pergi dengan raut muka kecewa, dan tak lama dia kembali membawa uang yang aku minta beserta slip tanda terima untuk aku tandatangani.
“Nanti kalau perlu lagi, panggil Lia ya Pak” katanya masih mengharap.
“Baik Lia.. Saya pergi dulu sekarang. Jangan telepon saya kecuali ada emergency ya” jawabku sambil mengemasi laptopku.
Tak lama akupun sudah meluncur dengan Mercy kesayanganku menuju hotel di kawasan Semanggi. Akupun cek in di hotel yang berdekatan dengan plaza yang baru dibangun di daerah itu. Setelah mendapatkan kunci akupun bergegas menuju kamar suite di hotel itu.
Setiba di kamar, kutelpon Dita untuk memberitahukan lokasiku. Dia berjanji untuk datang sekitar satu jam lagi. Sambil menunggu kunyalakan TV dan menonton siaran CNN di ruang tamu kamarku. Sedang asyik-asyiknya melihat berita perang di Irak tiba-tiba HP-ku berbunyi.
“Sialan Lia. Aku khan sudah bilang jangan telepon.” pikirku sambil mengangkat telepon tanpa melihat caller ID-nya.
“Halo. Pak Robert.. Ini Santi” kata suara di seberang sana. Santi ini adalah istri dari Pak Arief, manajer keuangan di kantorku.
“Oh Santi.. Aku pikir sekretarisku. Ada apa San?”
“Nggak Pak Robert.. Cuma kangen aja. Pengin ketemu lagi nih Pak.. Aku pengin ulangi kejadian yang di pesta dulu itu. Bisa ketemuan nggak Pak hari ini?”
“Wah.. Kalau hari ini nggak bisa San.. Aku sedang di tempat klien nih” jawabku mengelak.
“Khan minggu depan suamimu sudah pergi.. Jadi kita bisa puas deh nanti seharian” lanjutku.
“Habis Santi udah kangen banget Pak..” rengeknya.
“Sabar ya sayang.. Tinggal beberapa hari lagi kok” hiburku.
“OK deh.. Sorry kalau mengganggu ya Pak” katanya menyudahi pembicaraan.
Wah, ternyata dia sudah tak sabar kepengin aku kencani, pikirku. Mungkin baru pertama dia bertemu dengan laki-laki jantan sepertiku di pesta perkawinan dulu. Kemudian aku telepon Lia untuk menanyakan kepastian kepergian Pak Arief ke Singapore, yang dijawab bahwa semuanya sudah confirm dan Pak Arief akan berangkat tiga hari lagi.
Setelah satu jam setengah aku menunggu, terdengar bunyi bel kamarku. Kubuka pintu kamarku dan tampak Dita bersama seorang gadis belia, Tari.
“Maaf Pak Robert. Tadi Tari baru pulang dari latihan pramuka di sekolahnya” alasan Dita. Mungkin tampak di wajahku kalau aku kesal menunggu mereka.
“OK nggak apa.. Ayo masuk” kataku sambil memperhatikan Tari.
Hari itu dia mengenakan tanktop yang memperlihatkan bahunya yang putih mulus. Juga rok mini jeans yang dikenakan menambah cantik penampilannya. Tubuhnya termasuk bongsor untuk anak seusia dirinya. Dari balik tanktopnya tersembul buah dadanya yang baru tumbuh. Yang membuat aku kagum adalah wajahnya yang cantik dan terkesan innocent.
“Tari.. Ini Oom Robert” kata Dita memperkenalkanku padanya.
Kuulurkan tanganku dan disambutnya sambil berkata lirih, “Tari..”
Kemudian kami bertiga duduk di sofa, dengan Tari duduk disamping sedangkan Dita berhadapan denganku. Kurengkuh pundak Tari dengan tangan kiriku, sambil kuelus-elus sayang.
“Gimana Pak.. OK khan” Dita bertanya
“OK.. Kamu jemput lagi aja nanti” jawabku sambil mengelus dan meremas lengan Tari yang mulus itu gemas. Setelah itu Dita pamitan, tentu saja setelah menerima pembayarannya.
“Kamu lapar nggak Tari? Kita pesan makanan dulu yuk” saranku.
Dia hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang memang sudah waktunya makan malam, dan aku tak mau staminaku tidak prima hanya karena perutku yang lapar. Apalagi ternyata gadis yang dibawa Dita ini cantik sekali.
“Pesan apa?” tanyaku sambil memberikan room service menu padanya.
“Nasi goreng aja Oom”
“Minumnya?”
“Minta susu boleh Oom?” jawabnya.
Langsung aja aku pesan beefsteak dan bir untukku, dan nasi goreng serta susu untuk Tari. Sambil menunggu pesanan datang, kamipun menonton TV.
“Channelnya Tari ganti ya Oom” katanya sambil mengambil remote.
“Oh ya.. Oom juga bosen lihat perang terus” jawabku sambil mengagumi keindahan Tari.
Setelah dia duduk, kuelus-elus rambutnya yang berpita dan panjangnya sebahu itu. Tari kemudian mengubah channel TV ke channel Disney. Rupanya dia suka menonton film kartun. Maklum masih anak-anak, pikirku.
“Kamu sudah punya pacar?” tanyaku setelah kami terdiam beberapa saat.
“Belum Oom..”
“Kenapa?” tanyaku lagi
“Tari khan masih kecil..” katanya sambil terus menatap adegan kartun di TV.
Aku pun makin bernafsu mendengar jawabannya. Yah.. Akulah nantinya yang akan menikmatimu untuk pertama kalinya he.. He.. Kuciumi pipinya sambil kuelus-elus pahanya. Tari nampak tak terbiasa dan bergerak agak menghindar. Pahanya yang putih mulus makin tersibak menampakkan pemandangan yang indah. Tanganku kemudian meraba dadanya yang baru tumbuh itu. Kemudian kupegang wajahnya dan kucium bibirnya. Tampak sekali bahwa dia belum berpengalaman dalam hal seperti ini. Tanganku sudah ingin melucuti tanktopnya ketika tiba-tiba bel kamarku berbunyi.
“Room Service” terdengar suara di depan kamarku.
Akupun berdiri meninggalkan Tari untuk membuka pintu. Tampak ada perasaan lega di raut wajah Tari ketika aku beranjak pergi.
“Ada pesanan lagi Pak?” tanya petugas room service setelah meletakkan makanan di meja.
“Nggak” jawabku
“Mungkin buat anaknya?” tanyanya lagi
“Mungkin nanti menyusul” kataku sambil menandatangani bill yang diserahkannya.
Aku geli juga mendengar si petugas menyangka Tari adalah anakku. Memang pantas sih dilihat dari perbedaan umur kami.
Kamipun lalu menyantap makanan kami. Tari menikmati nasi goreng dan segelas susunya sambil terus menonton kartun kesayangannya.
“Mau buah Tari?” kataku sambil mengambil buah-buahan dari minibar.
“Nggak Oom.. Udah kenyang. Dibungkus aja boleh ya Oom.. Untuk adik di rumah” katanya.
Hm.. Benar-benar manis ini anak, pikirku. Dalam hati aku kasihan juga pada dia, tapi aku tak dapat menahan nafsu birahiku untuk menikmati tubuhnya yang muda itu.
Aku makan satu buah apel dan kuberikan sisanya padanya. Diterimanya buah-buahan itu dan kemudian dimasukkan dalam tasnya. Akupun kembali duduk disampingnya dan kemudian kuambil remote dan kumatikan TVnya.
“Ayo sayang kita mulai ya..” kataku sambil menciumi pundaknya yang terbuka.
Aku kemudian beralih menciumi bibirnya sambil tanganku meremas-remas dadanya. Tak ada response darinya. Ketika tangannya yang mungil aku letakkan di atas kemaluanku, dia diam saja.
“Kok diam saja sih!!” Bentakku.
“Oom.. Tari nggak pernah Oom.. Belum ngerti” jawabnya lirih ketakutan.
“Ya sudah sini kamu..” kataku sambil beranjak ke meja dimana laptopku berada. Tari mengikutiku dari belakang. Langsung kusetel film BF yang aku simpan di dalam harddiskku.
“Ayo sini duduk Oom pangku” kataku.
Taripun duduk di atas pangkuanku sambil melihat adegan persetubuhan dimana seorang wanita bule cantik sedang dengan rakusnya mengulum kemaluan orang berkulit hitam.
Mata Tari tampak takjub melihat adegan yang pasti baru pertama kalinya dia lihat itu. Sementara aku menciumi dan menjilati pundak dan lehernya yang jenjang dari belakang. Tangankupun telah masuk ke dalam tanktopnya dan meremas-remas buah dadanya yang masih tertutup BH itu. Kutarik ke atas cup BHnya sehingga tangankupun leluasa menjelajahi dan meremas buah dadanya yang mulai tumbuh itu. Kupilin perlahan puting dadanya yang mulai mengeras.
“Oom.. Jangan Oom.. Tari malu” katanya sambil menatap adegan di laptopku dimana si wanita bule sedang mengerang-erang nikmat disetubuhi dari belakang.
“Nggak usah malu sayang” jawabku sambil agak memutar tubuhnya sehingga aku leluasa menikmati dadanya.
Kulumat buah dada yang baru tumbuh itu dan kujilat lalu kuisap putingnya yang kecil berwarna merah muda itu. Sementara tanganku yang satu telah merambah paha sampai mengenai celana dalamnya.
“Pelan-pelan Oom.. Sakit” desahnya ketika tanganku mengusap-usap kemaluannya setelah celana dalamnya aku sibak. Mulutku masih sibuk mencari kepuasan dari buah dada anak belia ini.
“Kamu cantik sekali Tari.. Ohh yeah..” kataku meracau sambil mengulum dan menjilati buah dadanya.
Tanganku mengelus-elus pundaknya yang jernih, sedangkan yang satunya sedang merambah kemaluan anak perawan ini. Kemaluanku tampak memberontak di dalam celanaku, bahkan sudah mengeluarkan cairannya karena sudah sangat terangsang.
Kuturunkan Tari dari pangkuanku, dan akupun berdiri didepannya. Kuciumi bibirnya dengan ganas sambil tanganku meremas-remas rambutnya.
“Emmhh.. Emmhh..” hanya itu yang terdengar dari mulut Tari.
Kumasukkan lidahku dan kujelajahi rongga mulutnya. Sementara kuraih tangan Tari dan kuletakkan ke kemaluanku yang sudah sangat membengkak. Tetapi lagi-lagi dia hanya diam saja. Memang dasar anak-anak, belum tahu cara memuaskan lelaki, pikirku. Dengan agak kesal kutekan pundaknya sehingga dia berlutut di depanku. Dia agak berontak akan bangun lagi.
“Ayo.. Berlutut!!” kataku sambil menarik rambutnya.
Tampak air mata Tari berlinang di sudut matanya. Dengan cepat aku lepas celana dan celana dalamku, sehingga kemaluanku berdiri dengan gagah di depannya.
“Ayo isap!!” perintahku pada Tari yang tampak ketakutan melihat kemaluanku yang sebesar lengannya itu. Kugenggamkan tangannya pada kemaluanku itu.
“Ampun oomm.. Jangan Oom.. Besar sekali.. Nggak muat Oom” katanya mengiba-iba. Terasa tangannya bergetar memegang kemaluanku.
“Ayo!!” bentakku sambil menarik rambutnya sehingga kemaluankupun menyentuh wajahnya yang imut dan innocent itu.
Tampak Tari sambil menahan tangisnya membuka mulutnya dan akupun sambil berkacak pinggang menyorongkan kemaluanku padanya.
“Aahh.. Yes.. Make Daddy happy..” desahku ketika kemaluanku mulai memasuki mulutnya yang mungil. Akupun mengelus-elus rambutnya yang berpita itu dengan penuh kasih sayang ketika Tari mulai menghisapi kemaluanku.
“Ayo jilati batangnya.. Sayang” kataku sambil mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Taripun mulai menjilati batang kemaluanku dengan perlahan.
“Ayo isap lagi” instruksiku lagi sambil tanganku mengangkat dagunya dan menyorongkan kemaluanku padanya.
Taripun mulai lagi mengulum kemaluanku, walaupun hanya ujungnya saja yang masuk ke dalam mulutnya. Kutekan kemaluanku ke dalam mulutnya sehingga hampir separuhnya masuk kedalam mulutnya. Tampak dia tersedak ketika kemaluanku mengenai kerongkongannya. Dikeluarkannya kemaluanku untuk mengambil nafas, sementara aku tertawa geli melihatnya.
“Sudah. Oom.. Jangan lagi Oom” Tari memohon. Air matanya tampak menetes di pipinya
“Oom belum puas. Ayo lagi!!” bentakku sambil menjambak rambutnya, sehingga wajahnya terdongak ke atas menatapku.
Taripun terisak menangis, tetapi kemudian dia kembali menjilati dan mengulum kemaluanku. Pemandangan di kamar hotel itu sangatlah indah menurutku. Seorang laki-laki dewasa dengan tubuh tinggi besar sedang berkacak pinggang, sementara seorang anak di bawah umur dengan wajah tanpa dosa sedang mengulum kemaluannya.
Mungkin sekitar 15 sampai 20 menit aku ajari anak perawan itu cara untuk memberikan kepuasan oral pada lelaki. Setelah itu aku merasakan kemaluanku akan meledakkan cairan ejakulasinya.
“Buka mulutmu!!” perintahku pada Tari sambil mengeluarkan kemaluanku dari kulumannya.
Kemudian kukocok-kocok kemaluanku sebentar, dan kemudian muncratlah cairan spermaku ke dalam mulutnya dan sebagian mengenai wajahnya.
“Oh.. Yeahh.. Nikmat.. Kamu hebat Tari..” erangku saat orgasme.
“Ayo telan!!” perintahku lagi ketika melihat dia akan memuntahkan spermaku keluar.
Tampak dia berusaha menelan spermaku, walaupun karena jumlahnya yang banyak, sebagian meleleh keluar dari mulutnya. Diambilnya tisu dan dibersihkannya wajahnya sambil membetulkan pakaiannya sehingga rapi kembali. Dia pun kemudian mengambil dan meminum habis sisa susunya. Sementara aku pergi ke toilet untuk buang air kecil.
Sekembalinya aku dari toilet, tampak Tari sedang duduk gelisah di sofa. Pandangan matanya tampak kosong dan berubah menjadi takut ketika melihat aku menghampirinya. Aku tersenyum dan duduk disampingnya. Kembali kuelus-elus pundak dan tangannya.
“Omm.. Tari pengin pulang Oom.. Tari capek..” katanya.
“Yach kamu istirahat dulu aja sayang” jawabku sambil mencium pipinya.
Kamipun duduk terdiam. Kusetel kembali TV yang masih menayangkan acara kartun kesukaannya itu. Kuusap-usap tubuhnya yang duduk di sampingku sambil sesekali kuciumi. Aku menunggu hingga kejantananku bangkit kembali.
Aku beranjak ke meja dimana laptopku masih menayangkan adegan syur semenjak tadi. Di layar sekarang seorang pria bule sedang dihisap kemaluannya oleh dua wanita cantik. Yang satu bule juga, sedangkan yang lain wanita Asia, kalau tidak salah Asia Carrera namanya. Memang film produksi Vivid ini bagus sehingga aku menyimpannya di harddiskku. Melihat adegan demi adegan di layar, kejantananku pun perlahan bangkit kembali. Kudatangi sofa dimana Tari berada. Tari tampak gelisah ketika aku berlutut di depannya.
“Aku ingin menikmati memekmu sayang” kataku sambil menyibakkan rok mininya. Kuciumi pahanya dan kujilati sampai mengenai celana dalamnya. Kemudian kulepas celana dalamnya itu sehingga vaginanya yang bersih tak berbulu itu tampak mempesonaku.
“Jangan Oom.. Tolong Oom” kata Tari ketika tanganku mulai meraba kemaluannya. Karena gemas, langsung aku jilati dan isap vaginanya. Lidahku menari-nari dan kumasukkan ke dalam liangnya yang perawan itu.
“Uhh.. Ampun Oom..” erangnya ketika aku menemukan klitorisnya dan langsung kuhisap. Sementara tanganku naik ke atas meremas buah dadanya. Kupilin-pilin putingnya sehingga mulai mengeras. Sementara vaginanya pun sudah mengeluarkan lendir tanda dia telah siap untuk disetubuhi.
“Ayo kita lanjutkan di ranjang, manis..” kataku sambil merengkuh tubuhnya dan menggendongnya. Aku ciumi bibirnya sambil badannya tetap aku gendong menuju kamar tempat tidur.
Kurebahkan tubuhnya di ranjang, dan akupun mulai melucuti pakaianku. Tampak kemaluanku sudah kembali membengkak ingin diberi kenikmatan oleh anak kecil ini. Tari tampak memandangku dengan tatapan mengiba. Matanya menampakkan ketakutan melihat ukuran kemaluanku.
Langsung kuterkam tubuhnya di ranjang dan kuciumi wajahnya yang manis. Kubuka tanktopnya juga BHnya dan kulempar ke lantai. Langsung kusantap buah dadanya yang masih dalam masa pertumbuhan itu, dan kujilati dan kuisapi putingnya hingga mengeras.
Lalu kubuka rok mininya, sehingga Taripun sudah telanjang bulat pasrah di atas ranjang. Jariku kemudian menari merambah vaginanya dan mengusap-usap klitorisnya.
“Tolong jangan Oom.. Aduh.. Oom.. Jangan Oom.. Tari masih perawan Oom.” rengeknya. Aku menghentikan kegiatanku dan menatapnya
“Memangnya Bu Dita bilang apa?” tanyaku
“Katanya Tari nggak akan diperawani. Cuma dipegang dan diciumi aja” jawabnya terisak. Mendengar itu timbul perasaan iba karena ternyata dia telah dibohongi oleh Dita.
“Ya sudah..
“Kataku.
“Kamu hisap lagi aja kontol Oom seperti tadi” perintahku.
Akupun lalu tidur telentang dan Taripun kutarik hingga wajahnya berada di depan kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Kutekan kepalanya perlahan, hingga Taripun kembali memberikan kenikmatan mulutnya pada kemaluanku. Tampak dari tatapanku, kepalanya naik turun menghisapi kemaluanku. Tangankupun mengelus-elus rambutnya penuh rasa sayang seperti rasa sayang bapak kepada anaknya.
“Ya terus.. Sayang” erangku menahan nikmat yang tiada tara.
Setelah beberapa menit, kutarik tubuhnya sehingga wajahnya tepat berada diatas wajahku. Kuciumi bibirnya sambil tanganku meremas-remas pantatnya. Kemudian kubalikkan badannya, sehingga badanku yang tinggi besar menindih tubuh belianya. Kusedot puting buah dadanya dan kugigit-gigit sehingga menimbulkan bekas memerah.
Lalu kurenggangkan pahanya, dan kuarahkan kemaluanku ke vaginanya.
“Jangan Oom.. Ampun Oom.. Jangan.. Ampun..” rengek Tari ketika kemaluanku mulai menyentuh bibir vaginanya.
Aku tambah bernafsu saja mendengar rengekannya, dan kutekan kemaluanku sehingga mulai menerobos liang vagina perawannya. Terasa sesuatu menghalangi kemaluanku, yang pasti adalah selaput daranya
“Ahh.. Sakiitt..” jeritnya menahan tangis ketika kutekan kemaluanku merobek selaput daranya.
Kutahan sebentar menikmati saat aku mengambil keperawanan anak ini, kemudian kugerakkan pantatku maju mundur menyetubuhinya.
“Ah.. Nikmat.. Ahh.. God.. Memekmu enak Tari.” racauku
“Oh.. Ampun.. Sakit.. Udah Oom.. Ampun..” Tari merintih kesakitan sambil menangis.
“kamu mantap sekaliiii..” aku kembali meracau kenikmatan.
Kugenjot terus kemaluanku, dan aku merasakan nikmatnya jepitan vagina Tari yang sangat sempit itu. Tampak air mata Tari meleleh membasahi pipinya, dan ketika kugenjot kemaluanku tampak wajahnya menyeringai menahan sakit.
Kemudian kutarik pahanya sehingga melingkari pinggangku, dan sambil duduk di ranjang kugenjot lagi vaginanya. Tanganku sibuk menjelajahi buah dadanya.
Bosan dengan posisi itu, kubalikkan badannya dan kusetubuhi dia dengan gaya “doggy style”. Sudah tak terdengar lagi rengekan Tari, hanya suara erangannya dan isak tangisnya yang memenuhi ruangan itu.
“Ahh.. Sakit Oom ampun..” rengeknya kembali ketika rambutnya kutarik sehingga wajahnya terdongak ke atas.
Sambil kusetubuhi tubuhnya, kadang kuciumi dan kugigiti pundak dan lehernya dari belakang, sambil tanganku memerah buah dadanya.
Setelah kurang lebih satu jam aku setubuhi dia dengan berbagai macam posisi, akupun tak tahan untuk mengeluarkan cairan ejakulasiku. Kubalikkan badannya dan kugesek-gesekkan kemaluanku di dadanya. Kadang kugesek-gesekkan juga ke seluruh wajahnya.
“Ahh.. Memang enak perawan kamu Tari..” erangku sambil menumpahkan spermaku di dadanya. memang benar-benaar enak, gumam ku dalam batin, cewek perawan emang enak, sangat berbeda dengan tante girang…
Akupun kemudian bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri. Kemaluanku pun kubersihkan dari sisa sperma bercampur darah perawan Tari. Sekembalinya aku dari toilet, kulihat Tari masih terbaring di ranjang sambil menangis terisak-isak. Kubiarkan saja dia di sana, karena aku sudah merasa puas dan merasa menjadi lebih muda setelah mereguk kenikmatan dari anak itu.
Kuminum sisa birku, dan kutelepon Dita untuk menjemput Tari. Tak lama, Dita pun datang.
“Gimana Pak Robert?” tanyanya tersenyum.
“Wah.. Puas.. Tuh anak enak banget” kataku tertawa kecil.
“Syukurlah Pak Robert puas. Sengaja saya pilihin yang bagus kok Pak” katanya lagi.
“Percaya deh sama Dita. Tuh anaknya masih di kamar”
Dita pun masuk ke kamar tidur sedangkan aku nonton TV di sofa. Lagi-lagi masih berita perang di CNN. Sementara itu, terdengar Tari menangis di kamar sedangkan Dita berusaha menghiburnya. Setelah kurang lebih setengah jam, merekapun muncul dari dalam kamar tidur.
“Saya permisi dulu Pak Robert” pamit Dita.
“Oh ya Dit.., kalau ada yang bagus lagi telepon ya. Untuk obat awet muda.” jawabku sambil mengedipkan mataku.
“Beres Pak” jawabnya sambil menggandeng Tari keluar.
“Ini tasnya ketinggalan” kataku sambil menyerahkan tas Tari yang berisi buah-buahan untuk adiknya itu. Kuperhatikan mata Tari masih sembab, dan jalannya pun agak pincang ketika meninggalkan kamar hotelku.
Tak lama akupun cek out dari hotel. Dalam perjalanan pulang ke apartemenku, aku mampir di panti pijat langgananku. Tubuhku agak pegal sehabis menyetubuhi Tari tadi. Setelah dipijat, dan mandi air hangat, tubuhku terasa sangat segar. Akupun bergegas pulang dengan mengendarai Mercy silver metalik kesayanganku. Tak lupa kusetel lagu Al Jarreau kesayanganku.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money, Edited By Super Berita